Sunday, November 02, 2008

Hari Ini, Syukuran Ahmad Syafii

Hari Ini, Syukuran Ahmad Syafii
Sabtu, 01 November 2008
Padang, Padek—Syukuran terhadap keberhasilan cendekiawan asal Sumbar Prof Dr Ahmad Syafii Maarif MA yang memperoleh Magsaysay Award, merupakan gagasan Gubernur Sumbar sebagai bentuk menumbuhkan motivasi rasa cinta daerah.

Diharapkan, torehan prestasi putra Sumpur Kudus Sijunjung tersebut mampu membangkitkan motivasi anak muda untuk mengharumkan nama daerah. Apalagi saat ini sudah mulai berkurang tokoh-tokoh asal Sumbar yang memberikan kontribusi nyata terhadap bangsa ini. Padahal, sejak dulu Sumbar sangat disegani etnis lain.

Dr Shofwan Karim Elha, MA mengungkapkan hal itu di sela-sela kesibukannya mempersiapkan syukuran Ramon Magsaysay Award untuk Prof Dr Ahmad Syafii Maarif MA dan silaturahmi masyarakat Sumbar, di Gedung Serba Guna PT Semen Padang, kemarin. Shofwan Karim mengatakan, sebenarnya tokoh-tokoh asal Sumbar saat ini cukup banyak berperan di berbagai bidang. Namun belum tersosialisasi dengan baik, sehingga anak muda Sumbar merasakan kehilangan panutan.

”Kita boleh lihat tokoh-tokoh energik Sumbar yang saat menjadi pimpinan di beberapa perusahan besar ternama, namun rasa bangga masyarakat itu hanya tertutup dalam hati saja tanpa peduli untuk membangkitkan semangat itu. Oleh karena itu, syukuran kali ini merupakan salah satu upaya membangun kembali rasa bangga untuk berbuat lebih baik di berbagai bidang pembangunan di negeri ini,” katanya.

Shofwan Karim dalam kesempatan itu juga menyampaikan bahwa Yayasan Magsaysay Fhilipina memberikan penghargaan tertinggi kepada tokoh-tokoh dunia untuk beberapa kategori. Salah satu adalah penganugrahan ”Hadiah Perdamaian dan Pemahaman Internasional (Peace and International Understanding)” tahun 2008, dengan seleksi ketat dan prima terpilih kepada Prof Dr H Ahmad Syafii Maarif MA putra Sumbar kelahiran Sumpur Kudus, Sijunjung, 31 Mei 1935.

”Kita patut bangga terhadap tokoh Prof Dr H Ahmad Syafii Maarif MA yang merupakan cendekiawan yang memahami falsafah sejarah dan memiliki kepedulian terhadap masyarakat miskin, berpegang terhadap kebenaran, tidak tunduk terhadap permainan politik. Juga, mengajak umat mempelajari Al Qur’an secara kaffah (menyeluruh) bukan separuh-separuh,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, masyarakat juga layak untuk mencontoh keteladanan seorang Syafii Maarif. ”Selain rendah hati, ia juga dinilai tegas, santun, dan sederhana, serta terbuka. Kita berharap ada tokoh-tokoh yang dapat menjadi dan motivasi bagi generasi muda untuk bangkit menunjukkan kemampuannya di mana pun berada dan berbuat,” tukas Rektor UMSB Sumbar ini. (afi)

Saturday, November 01, 2008

Kerisauan Terjawab

HEADLINE NEWS
Minggu, 02 November 2008
Kerisauan Orang Minang Terjawab
Syafii Nilai Gamawan Layak Maju di Pilpres
Padang, Padek--Penghargaan Magsaysay Award 2008 yang diterima tokoh nasional asal Sumbar Ahmad Syafii Maarif menjawab kerisauan orang Minang yang cemas akan ketiadaan tokoh Sumbar yang lahir pada masa sekarang. “Bangsa asing saja bisa menghargai Buya Syafii Maarif, kenapa kita tidak. Seharusnya, sebesar apa penghargaan untuk tokoh masa lalu, sebesar itu pula penghargaan yang kita berikan kepada tokoh yang muncul belakangan. Penghargaan atau syukuran ini dengan penghargaan Magsaysay yang dianggap nobel Asia, tidak ada artinya.

Sekarang bagaimana kita membuat generasi berikutnya memiliki motivasi untuk maju” ungkap Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi pada acara syukuran atas diraihnya penghargaan Magsaysay Award di Gedung Serba Guna PT Semen Padang, Sabtu (1/11).

Dikatakan gubernur, penghargaan yang diberikan masyarakat Sumbar kepada Buya Syafii Maarif—panggilang akrab Ahmad Syafii Maarif, sama dengan membesarkan generasi Minang berikutnya. Artinya, pemberian penghargaan tersebut akan meningkatkan motivasi generasi Minang saat ini untuk bisa berkiprah lebih baik lagi di masa datang.

Sementara itu, Buya Syafii Maarif, mengakui banyak orang Minang saat ini yang merasa kehilangan kejayaan masa lalu. Salah satunya akibat adanya Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumbar. “Sudah, biarkanlah itu berlalu. Sudah saatnya kita berubah. Selain industri otak, kita juga perlu mengembangkan industri hati untuk menciptakan manusia dengan kekayaan spiritual sebagai penyeimbang intelektual,” ajak Buya Syafii.

Pada acara syukuran itu, hadir Ketua DPRD Sumbar Leonardy Harmainy, Wakil Ketua DPRD Mahyeldi Ansharullah, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah RB Pahlawan Kayo, Ketua ICMI Sumbar Arwan Kasri, Ketua PWI Sumbar Basril Basyar, wartawan senior Marthias Duski Pandoe dan Sutan Zaili Asril, tokoh masyarakat, alim ulama dan cadiak pandai, serta bundo kanduang. Selain itu, juga hadir Komisaris PT Semen Padang Shofwan Karim Elha dan Basril Djabar, serta Dirut PT Semen Padang Endang Irzal.

Buya Syafii Maarif meraih Magsaysay Award kategori Perdamaian dan Pemahaman Internasional, karena memiliki komitmen dan kesungguhan dalam membimbing umat Islam menyakini dan menerima toleransi dan pluralisme. Buya Syafii dinilai pantas menerima penghargaan tersebut karena kepeduliannya terhadap penderitaan kaum miskin. Atas kontribusinya tersebut, sehubungan dengan ketokohan orang Minang, ia mengacungkan jempol terhadap gebrakan untuk penyimpangan dari pola umum yang pernah dilakukan Gamawan Fauzi ketika menjabat sebagai Bupati Solok.

Ia merasa senang dengan terobosan birokratik yang memerangi budaya kumuh dalam bentuk korupsi dan praktik busuk lainnya. “Sebagai bidan KPK saat ini, saya tentu gembira dengan gebrakan berani yang telah dijalankan dalam beberapa bulan terakhir. Dengan catatan, pranata hukumlah yang harus benar dijadikan pedoman. Intervensi politik kekuasaan harus dikesampingkan agar tuduhan “tebang pilih” tidak lagi dilontarkan,” ujar Buya Syafii Maarif yang mengaku kikuk atas acara syukuran yang diberikan untuknya tersebut.

Cuma Warna Politik

Bermunculannya nama-nama seperti Sri Sultan Hamengkubuwono atau Fadel Muhammad dan sederet nama lainnya menurut putra Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung ini hanyalah warna politik saja. Kemungkinan siapa yang akan maju pada Pemilihan Presiden (Pilpres) mendatang menurut Buya Syafii baru akan mengerucut setelah Pemilu legislatif selesai.

“Siapapun yang memiliki keinginan untuk maju sebagai calon adalah sah-sah saja.Tentang tokoh asal Sumbar yang layak maju untuk saat ini, saya rasa gubernur yang sekarang (Gamawan Fauzi-red), juga layak untuk maju,” ungkapnya ketika dicegat Padang Ekspres jelang keberangkatannya ke Jakarta di VIP Room Bandara Internasional Minangkabau (BIM).

Terlepas dari calon-calon tersebut atau nama terakhir yang disebutnya, Buya Syafii Maarif mengatakan kelayakan tersebut tidak harus berdasarkan popularitas. Figur yang memiliki integritas, keberanian dan mau berjibaku seperti yang dimiliki Gamawan juga adalah syarat kelayakan untuk seorang pemimpin masa depan. “Walaupun sosio-filosofi politik Indonesia masih menyempitkan peluang capres dari luar Jawa untuk maju, warna politik yang ada akan memungkinkan kemunculan nama-nama diluar itu,”

Tak Percaya Diri

Terkait digunakannya gambar pendiri Muhammadiyah oleh salah satu partai politik dalam iklannya di televisi, Buya Syafii Maarif mengungkapkan ketidaksetujuannya. Menurutnya, apa yang dilakukan parpol tersebut akan memunculkan konflik di kemudian hari. “Tentang hal itu, saya merasa parpol tersebut tidak percaya diri. Apa yang mereka lakukan tersebut telah merusak filosofi politik. Hal ini malah akan merugikan parpol itu sendiri,” lanjutnya sembari menghimbau parpol tersebut untuk menarik iklan tersebut untuk diubah.

Bobrok

Bobrok, itulah cap yang pantas untuk politikus dengan pemikiran menjadikan arena politik sebagai mata pencarian. Pasalnya, jika pola pikir seperti itu terus dipelihara, Buya Syafi’i Maarif yakin bangsa ini sulit lepas dari budaya korupsi yang menggerogoti bangsa ini, sehingga terus mendapat nilai kurang. “Jika politik sudah dijadikan mata pencarian, adalah satu pertanda bangsa yang tidak beradab. Kalau itu terus berlanjut, jelas-jelas mereka berlawanan dengan pembangunan bangsa ini yang tengah perang melawan korupsi guna mewujudkan pemerintah yang bersih,” ujarnya. (*)

Buya, Isnpirasi Kaum Muda

Buya, Inspirasi Kaum Muda
Minggu, 02 November 2008
Padang, Padek--Magsaysay Award 2008 kategori Perdamaian dan Pemahaman Internasional yang diraih Prof Dr Ahmad Syafii Maarif adalah kebanggan masyarakat Sumatera Barat. Atas dasar itulah, bersama dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar, PT Semen Padang (PT SP) menggelar acara syukuran atas keberhasilan

putra kelahiran Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung tersebut. Hal itu disampaikan Direktur Utama PT SP Endang Irzal dalam acara syukuran yang digelar di Gedung Serba Guna PT SP, Sabtu (31/11). Menurutnya, masyarakat Sumbar khususnya, pantas bangga dan memberikan hormat atas penghargaan yang luar biasa yang diterima Buya Syafii Maarif.

“Kebanggaan tidak hanya bagi negara, tetapi juga bagi masyarakat Sumbar. Kebanggaan tersebut memiliki makna heroik dan motivasi. Justru itu, seyogyanya kita memberikan penghargaan dan dukungan moral kepada beliau dan mensyukuri prestasi pemikiran dan karya beliau dalam kehidupan umat, bermasyarakat, berbangsa, bernegara,” ujarnya. Menurut E Irzal—yang disebut sebagai orang yang cakap oleh Buya Syafii Maarif—syukuran itu sebagai motivasi bagi warga Sumbar baik alim ulama, ilmuwan, akademisi dan cendekiawan. Secara khusus lanjut Irzal menjadi inspirasi bagi kaum muda untuk mencapai prestasi tinggi di forum nasional bahkan internasional.

“Sebenarnya kita telah memiliki tokoh-tokoh muda yang berprestasi di tingkat nasional. Mereka dengan prestasi profesionalnya memimpin di berbagai perusahaan-perusahaan terkemuka di republik ini, swasta maupun BUMN,” jelasnya. Tokoh muda Sumbar menurut E Irzal muncul tanpa diduga dan mengawali karir dari bawah tetapi masyarakat Sumbar tidak mengikuti kiprah mereka sejak awal.

Apresiasi: Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi menyerahkan penghargaan kepada Buya Ahmad Syafii Maarif saat syukuran Magsaysay Award di Gedung Serbaguna PT Semen Padang, kemarin.

“Barangkali hal ini yang perlu di-setting lagi. Jadi sejak awal kita bisa berperan memberikan arahan dan motivasi sehingga mereka mantap menapaki karir dan prestasi serta berperan membangun Sumbar ke depan,” lanjut putra Payakumbuh ini.

Dijelaskan E Irzal yang juga dinilai Buya Syafii Maarif layak memimpin daerah, atas keberhasilannya memajukan PT SP mengharapkan prestasi buya yang memujinya dapat memacu semangat tokoh-tokoh Sumbar, terutama tokoh-tokoh muda sebagai generasi penerus. “Kita mengenal Buya Syafii Maarif sebagai tokoh yang memiliki komitmen. Untuk itu langkah dan jejak beliau pantas kita ikuti. Jadi, mari bertekad memberikan karya terbaik,” ungkapnya. Bentuk kebanggaan Sumbar lainnya, Masjid Raya yang tengah dibangun, juga didukung oleh PT SP.

Dukungan tersebut diberikan dalam bentuk suntikan dana sebesar Rp1 miliar. E Irzal mengatakan, bantuan untuk pembangunan Masjid Raya tersebut merupakan program Corporate Social Responsibility (CSR) PT SP sebagai program wajib bagi seluruh BUMN di tanah air. “Selain bantuan ini, program CSR juga kita berikan dalam bentuk pinjaman modal pada program PKBL. Bantuan ini, adalah bantuan hibah layaknya bantuan pendidikan, kesehatan dan pembangunan sarana umum di sekitar lingkungan perusahaan,” jelas E Irzal. (dy)

< Sebelumnya Selanjutnya >

Kunci Kekuatan Taliban

Oktober 31, 2008...5:40 am

Kunci Kekuatan Taliban

Lompat ke Komentar

Oleh Dina Y. Sulaeman*

dimuat di koran Singgalang edisi hari ini.

Perang melawan terorisme yang dilancarkan AS di Afganistan sudah berlangsung 7 tahun. Serangan AS pada musim gugur 2001 memang berhasil menggulingkan rezim Taliban dan disusul dengan dibentuknya pemerintahan Afganistan yang dipilih melalui pemilu. Namun, kenyataannya, Taliban secara de facto tetap tak terkalahkan. Bahkan, Brigadir Mark Carleton-Smith, Komandan Pasukan Inggris di Afganistan pada awal bulan Oktober memproklamasikan, “Kita tidak bisa mengalahkan Taliban,” (The Times, 6/10). ABC News online bahkan juga menyebut tahun 2008 sebagai tahun mematikan bagi tentara asing di Afgan. Padahal, saat ini sekitar 33.000 tentara AS tengah bercokol di negeri ini, ditambah dengan 65.000 tentara NATO yang didatangkan dari 40 negara.

Tidakkah ini menimbulkan tanda tanya besar? Sebuah pasukan yang dicitrakan primitif, berjuang di gunung-gunung batu, punya paham ekstrim kanan, ternyata tak bisa ditaklukkan oleh pasukan tercanggih dunia yang bersenjata lengkap meski perang berlangsung 7 tahun. Osama bin Laden yang disebut AS sebagai teroris nomor 1 dunia, juga tak kunjung tertangkap. Padahal, hampir seluruh pelosok Afghan konon sudah disisir. Sejak 2001, lebih dari 1000 tentara asing dan 1500 warga sipil tewas dalam operasi-operasi militer yang konon bertujuan untuk mencari Osama dan gerombolan Al Qaeda.

Sebuah buku berjudul Bin Ladden, the Forbidden Truth agaknya bisa memberi titik terang pada tanda tanya di atas. Buku karya Brisard dan Dasquie menceritakan adanya negosiasi rahasia antara Bush dengan rezim Taliban pada tahun 2001, sebelum terjadinya tragedi 11 September. Negosiasi itu intinya berisikan kesediaan AS menerima rezim Taliban dan tidak lagi menyebutnya sebagai organisasi teroris jika Taliban bekerjasama dalam proyek minyak di Asia Tengah. AS memang ingin melepaskan diri dari ketergantungan minyak pada Timur Tengah. Ladang-ladang minyak yang layak untuk dieksplorasi terletak di negara-negara Laut Kaspia dan Asia Tengah, seperti Kazakhstan, Azebaijan, dan Tajikiskan. Problemnya, minyak di kawasan itu harus melewati Rusia untuk bisa sampai ke pasar dunia dan ini bukan pilihan yang baik untuk AS. Pilihan lain, yang juga mustahil diambil AS adalah, minyak dialirkan melalui Iran, lalu menembus Teluk Persia. Pilihan terakhir dan terbaik (bagi AS) adalah membangun pipa minyak dari Turkmenistan, terus melewati Afganistan dan Pakistan, hingga sampai di Samudera India. Tak heran bila AS sedemikian bertahan menduduki Afganistan, meski korban nyawa telah sedemikian banyak.

Indikasi lain adanya bisnis minyak di balik serangan AS ke Afganistan adalah bahwa hingga kini, AS tidak pernah mencatatkan Afganistan sebagai negara sponsor terorisme. Padahal, sudah jelas Taleban dan Bin Laden bermarkas dan merajalela di Afganistan. Di saat yang sama, AS memasukkan nama Iran, Suriah, Korea Utara sebagai negara pendukung terorisme tanpa alasan yang masuk akal. Tentu saja, seandainya Afganistan dikategorikan sebagai negara sponsor terorisme, akan mencoreng citra AS jika menanamkan modal bisnis minyak di sana. Fakta aneh lain yang terungkap adalah bahwa sesungguhnya keluarga Bin Laden dan Bush punya hubungan erat di bidang bisnis.

Ada beberapa prediksi terkait hasil negosiasi Bush-Taliban pra Tragedi 11 September itu. Sebagian sumber menyebutkan bahwa Taliban menolak bekerja sama dengan AS. Ada pula sumber lain yang menilai bahwa negosiasi itu membuktikan bahwa invasi AS ke Afgan sudah dipersiapkan jauh sebelum terjadinya 11/9. Namun, yang jelas, tragedi terorisme canggih ala 11/9 itu (yang anehnya, tidak mampu terdeteksi oleh agen FBI dan CIA yang selama ini dicitrakan sangat hebat), memberi alibi kuat bagi AS untuk melancarkan serangan ke Afghanistan dan Irak. Hanya dalam waktu 3 minggu, rezim Taleban bisa digulingkan.

Taliban Ternyata Didirikan CIA

Kini, mari kita melihat fakta di balik pendirian Taliban. Data menyebutkan bahwa antara tahun 1978 dan 1992, pemerintah AS mengucurkan minimalnya 6 juta US Dollar (sebagian bahkan menyebut angka $20 juta) untuk membeli senjata, melatih, dan mendanai pendirian sebuah kelompok jihad Afganistan demi mengusir Soviet dari Afganistan. Perlu diingat, saat itu tengah berkecamuk Perang Dingin AS-Soviet dan AS menggunakan segala cara untuk menghalangi meluasnya pengaruh Soviet di dunia.

Upaya itu juga didukung oleh Arab Saudi dan Pakistan, termasuk dinasti Bin Laden yang menyumbang dana jutaan dollar. Kelompok itu kemudian disebut Taleban, berasal dari kata Taleb atau pelajar, karena merekrut para pelajar Islam di Pakistan dan berbagai negara muslim. Ahmed Rashid, koresponden untuk Far Eastern Economic Review, menulis bahwa pada tahun 1986, Direktur CIA William Casey mengakui bantuan CIA kepada ISI (badan intelijen Pakistan) untuk merekrut pasukan jihad. Minimalnya 100,000 militas Islam berdatangan ke Pakistan antara tahun 1982 and 1992 (60.000 di antaranya pelajar Islam di Pakistan).

Perekrutan, penggalangan dana, dan penyediaan peralatan untuk Taleban disalurkan oleh organisasi Maktab al Khidamar (MAK) dan Osama Bin Laden adalah salah satu dari tiga pimpinan MAK. Pada tahun 1989, Bin Laden menguasai MAK sepenuhnya. Osama bin Laden, anak dari milyarder Arab Saudi, datang ke Afghanistan tahun 1980 untuk bergabung dalam gerakan jihad yang disponsori CIA itu. Dia bertugas merektrut, mendanai, dan melatih 35.000 sukarelawan non-Afghan yang bergabung dengan Taliban. Milt Bearden, Deputy CIA di Pakistan 1986-1989, mengakui, atas sepengetahuan CIA, Bin Laden membawa 20-25 juta dollar per bulan untuk membiayai perang (New Yorker, 24/1/2000). Bin Laden kemudian mendirikan organisasi Al Qaeda pada tahun 1987 yang menjadi pelaksana kamp-kamp pelatihan militan dan berbagai bisnis (perdagangan) di Afganistan.
Bulan madu Taleban-Al Qaeda-Bin Laden berakhir setelah Tragedi 11 September 2001. Segera setelah pengeboman menara WTC di New York yang menewaskan 5000-an orang itu, pemerintahan Bush menuduh Al Qaeda lah pelakunya dan segera setelah itu, melancarkan serangan ke Irak dan Afganistan tanpa izin PBB.

Lalu, kembali ke pertanyaan, mengapa Taliban dan Bin Laden tetap tak terkalahkan hingga kini? Jawabannya sangat sederhana: Taliban adalah kunci bagi AS untuk terus bercokol di Afganistan. Bila Taleban kalah dan Afganistan aman, sulit bagi AS untuk memaksakan kehendaknya (dan proyek-proyeknya) di negeri itu. Pembentukan pemerintahan dan UUD Afganistan segera setelah rezim Taleban digulingkan menunjukkan bahwa rakyat Afganistan memilih bentuk negara Islam. Bila dibiarkan begitu saja, Afganistan akan sangat mudah bersekutu dengan Iran (kedua negara memiliki sejarah historis yang hampir sama, bahkan keduanya dulu pernah tergabung dalam satu negara, dengan bahasa yang sama). Itulah sebabnya, AS tak pernah membiarkan bangsa Afgan mengatur sendiri negaranya. AS terus bercokol di sana, menghancurkan berbagai infrastruktur dan membunuh warga sipil dengan alasan, untuk menumpas Taleban. Dan itulah kunci kekuatan Taleban: AS memang masih membutuhkan keberadaannya.

*pemerhati kajian Timur Tengah, penulis buku Ahmadinejad on Palestine

Maarif_Telinga ke Bumi

MENYIKAPI KEMISKINAN DI INDONESIA

Syafii Maarif : Para Elit Harus Memasang Telinga Ke Bumi

Sabtu, 01/11/2008 20:50 WIB


klik untuk melihat foto
Syafii Maarif (foto : romi)

padangmedia.com - PADANG – Menyikapi kondisi kemiskinan di Indonesia, menurut Syafii Maarif perlu mendorong kesadaran para elit dalam hal kemiskinan itu. Kesadaran itu perlu ditingkatkan dan ditumbuhkan terus menerus.

“Tingkat kemiskinan di Indonesia mencapai 100 juta dari 225 juta penduduk Indonesia. Hal ini sangat mengkhawatirkan dan memalukan. Perlu kesadaran. Kita meminta politisi dari tingkat terbawah di kabupaten sampai ke tingkat atas. Mereka mesti memasang telinganya ke bumi. Apakah sebetulnya yang diinginkan oleh rakyat, apa yang dibicarakan apa yang dialami dan dibutuhkan oleh mereka,” ungkap Syafii Maarif kepada padangmedia.com, Sabtu (1/11) di Gubernuran Padang usai syukuran yang dilakukan pemprov Sumbar di Gedung Serba Guna Indarung Padang.

Ditambahkan Syafii, wakil rakyat itu seharusnya mempertajam pendengarannya terhadap masyarakat bawah. Jika sebelumnya, saat kampanye, mereka begitu, tapi setelah diatas mereka lupa, lupa daratan. “Merekaperlu disadarkan disadarkan bahwa hidup ini pendek. Dalam hidup yang singkat itu mereka harus berbuat sesuatu yang baik,” katanya.

Menyangkut Ramon Magsaysay tokoh yang namanya diabadikan untuk penghargaan dari Filipinan itu, menurut Syafii adalah sosok yang pantas diteladani. Ia bergerak sampai ke akar rumput. “Saya rasa belum ada tokoh seperti diadi Indonesia. Dan itu harus dimunculkan. Sosok Ramon Magsaysay harus dikenal dan dipopulerkan di kalangan pemimpin kita. Biografi tentangnya harus dibaca oleh para pemimpin kita di Indonesia,” ulasnya. (nit)

Dalam Sejarah, Baru Sekarang Orang Minang dapat Magsaysasy

Dalam Sejarah, Baru Sekarang Orang Minang dapat Magsasysay

Sabtu, 01/11/2008 21:51 WIB


padangmedia.com - PADANG – Kita tidak boleh hanya jujur menilai orang tapi juga harus jujur menilai diri kita. Kita tidak boleh terjebak pada romantisme masa lalu saja. Katakanlah tokoh kita dulu hebat-hebat, padahal tokoh kita sekarang banyak juga yang hebat.

“Kita memuji Pak Azwar, saat produksi PT Semen Padang mencapai 600 ribu ton. Saat Pak Endang sekarang produksi semen kita sudah 6 juta ton, kita tidak memuji. Itu artinya apa. Kita hanya objektif mengatakan orang lain tapi kita tidak objektif untuk diri kita sendiri,” ungkap Gamawan Fauzi Gubernur Sumbar kepada padangmedia.com, Sabtu (1/11) di Gubernuran Padang, usai acara syukuran Syafii Maarif atas penghargaan Ramon Magsaysay di Gedung Serbaguna Semen Padang..

Ditambahkan Gamawan, tanpa mengurangi penghargaan terhadap tokoh-tokoh masa lalu kita juga harus adil pada masa kini dengan memberikan penghargaan. Menurut Gamawan, banyak tokoh-tokoh kita pada masa kini yang hebat. Salah satunya adalah Syafii Maarif yang mendapat penghargaan dari dunia internasional. “Dalam sejarah Minangkabau, ini baru sekarang orang Minang dapat Magsaysay. Dalam bidang ini Cuma ada dua orang Indonesia yang mendapat penghargaan ini Itu artinya apa. Prestasi itu tidak sesederhana yang kita bayangkan. Banyak orang Minang yang hebat sekarang seperti juga dimasa lalu,” jelasnya.

Dengan adanya syukuran ini, sebut Gamawan, adalah hal yang pantas sebagai apresiasi warga Sumbar pada pak Syafii Maarif. Selain itu juga adalah ungkapan syukur disaat banyak orang pesimis dengan munculnya tokoh Minang pada masa kini. Hal ini adalah motivasi bagi masyarakat Minang bagi masa datang.

“Untuk itu kita terus mendorong mereka yang berprestai dengan memberikan penghargaan. Kita tidak hanya memberikan punish, tetai juga memberikan reward yang lebih banyak. Karena sebenarnya sukses itu juga diukur dengan penghargaan yang sudah kita berikan,” katanya.

Selain Syafii, kata Gamawan masih banyak tokoh kita di tingkat nasional yang hebat. Miwsalnya di BUMN ada Emirsyah Sattar, ada Djoni, Rinaldi.. Belum lagi di departemen, dirjen, tingkat direktur, banyak orang Minang. Mereka karena sudah sangat professional, sebagian mereka ada yang melupakan kultur ini mereka sudah menjadi bagian masyarakat dunia. Sebaliknya ada yang sangat kental kepeduliannya.

“Mereka yang hebat itu bermacam-macam. Ada yang berkontribusi melalui pikiran, saran pendapat atau tenaga.Adauga dalam bentuk uang, fasilitas, macam-macam tergantung bagaimana mereka mengabdi pada daerahnya,” ulasnya. (nit)


Shofwan Karim: Sumbarr Belum Kehilangan Tokoh-Tokoh

Shofwan Karim : Sumbar Belum Kehilangan Tokoh-Tokoh

Jumat, 31/10/2008 15:28 WIB


padangmedia.com - PADANG – Ternyata, Sumatera Barat belum kehilangan tokoh-tokoh yang masih dapat mengharumkan nama Minangkabau ke dunia luar. Salah satunya Syafii Maarif yang mendapat penghargaan dari Filipina Ramon Magsaysay.

“Kita belum kehilangan tokoh-tokoh. Hanya saja tidak terpublikasikan dengan baik. Selain pak Syafii yang dapat magsasysay ada tokoh muda Suryadi di Belanda, bayak tulisannya dimana-mana, Kemudian Wisran Hadi. Dan beberapa tokoh Sumbar yang baru saja mendapat penghargaan dari Gubernur Sumbar dalam waktu memperingati HUT Kemerdekan Agustus lalu, ungkap Shofwan Karim Elha, Rektor Universitas Muhammadiyah Sumbar kepada padangmedia.com, Jumat (31/10) di Gubernuran Padang.

Hanya sajua, menurut Shofwan, orang sekrang tidak begitu peduli. Ada orang yang kerjanya berkarya demikian rupa seperti Ery Mefri, misalnya, ia sudah dikenal di dunia internasional sebagai koregrafer. “Pemprov Sumbar sudah berikan penghargaan. Ini penting untuk membangun spirit bagi generasi muda. Supaya mereka mengejar prestasi ditengah pertarungan global ini. Hal ini adalah kompetisi yang fair. Semua bisa dicapai asal ada kemauan,” jelasnya.

Untuk mencapai prestasi itu, kata Shofwan, uang memang penting. Tapi perlu juga komunikasi dan koneksi. Dlaam hal ini koneksi jangan diartikan pada hal yang negatif. . Kalau ada koneksi bisa berhasil, tidak seperti itu. Koneksi diartikan lebih luas siiringi dengan kamampuan. Artinya, seseorang harus mempromosikan diri dengan menggunakan orang lain.

“Misal saja di Payakumbuh, kita punya penyair yang pernah dapat Muri karena pusi terpanjang, tapi tidak dipopulerkan. Padahal kini media cetak dan elektronik untuk bisa mempublikasikan potensi dan prestasi seseorang,” ucapnya.

Menyangkut tokoh Minang yang berada diluar Sumatera Barat, menurut Shofwan, sangat banyak yang berhasil, bukan hanya dimasa lalu. Karena tokoh masa lalu sesuai zamannya. Yang dihadapi masyarakat waktu itu sesuai zamannya. Shofwan Mencontohkan pada zaman Azwar Anas dulu, Indarung itu dibesarkan, produksinya kala itu 600 ribu ton, penduduk Sumbar 3,5 juta orang. Dalam tempo sekian tahun, zamannya Pak Endang, produksinya mencapai 6 juta ton. Bisa 10 kali lipat dibanding zaman Pak Azwar. Tapi hal itu dianggap biasa-biasa saja.

Contoh lain Shofwan mengambil nama Yanuar Muin zaman PLN Pikitring. Betapa hebatnya seorang Yanuar Muin. Lalu sekarang ada nama Herman Danil Ibrahim, Direktur Distribusi dan Koneksi PLN, hal itu ditanggapi biasa-biasa saja. Kemudian penerbangan Garuda, direkturnya Emirsyah Sattar, biasa-biasa saja. Juga nama Rinaldi Firmansyah, Dirut Telkom, Indosat juga Bursa efek Indonesia.

“Berapa banyaknya tokoh Minang yang sukses. Kita belum kehilangan tokoh-tokoh. Mungkin orang awak udah kurang peduli. .Padahal untuk generasi muda itu penting, karena mereka tidak tahu,” ulasnya. (nit)

Ini Bukan Sekedar Perayaan

Ini Bukan Sekedar Perayaan

Sabtu, 01/11/2008 22:06 WIB

klik untuk melihat foto

Padangmedia.com - PADANG-Pemerintahan Sumatera Barat didukung oleh PTSemen Padang mengadakan syukuran atas Syafii Maarif, sebagai penerima Magsaysay Award dari Pemerintah Filipina pada Juli 1008 lalu. Syafii menerima penghargaan dalam kategori perdamaian dan pemahaman internasional.
Syukuran yang digelar di gedung serbaguna SP, Sabtu (1/11) ini dihadiri lebih kurang 1000 yang datang dari berbagai kalangan.
Syafii menyampaikan ia sangat berterima kasih atas acara itu, namun ia mengharapkan agar ini bukanlah sekedar perayaan saja, namun juga dapat dimaknai.
Ia sangat mengharapkan agar generasi muda untuk meneruskan perjuangan menegakkan moderasi, inklusivitas, dan pluralisme.
"Tapi yang otentik, tidak berpura-pura," ujarnya.

Menyangkut anugarah itu, seperti disampaikan Shofwan Karim dari beberapa siaran pers di negara asal Magsasysay, Pak Syafii ini dinilai sebagai orang yang berprinsip islamis yang kaffah, yang komprehensif. Satu ayat dalam Al Quran dibandingkan dengan ayat lain. "Dia selelu menyebut Al quran bisa toleran. Kita bisa hidup berdampingan dengan siapa saja termasuk orang atheis. Soal akidah kita beda, tapi tidak harus dibunuh. Tapi kita harus menyerukan agama kita kepada orang lain. Selain itu juga kepeduliannya terhadap pemberdayaan orang miskin. Maarif orang yang lugas dan sederhana. Beliau tegas serta sederhana dalam memimpin. Muhammadiyah yang besar itu dipimpinnya. Selain itu, ia sangat kritis. Tapi ketika ia mengeritik Amerika, tapi Amerika tidak tersinggung. Itu waktu terror Bush, Syafii keras mengkritik walau dia alumni Amerika," jelas Shofwan.

Menurut Shofwan , Syafii Maarif memang pantas penghargaan itu untuk dia karena secara internasioal ia punya visi tentang kehidupan pluralisme. Itu bukan plularisme yang umum dipahami orang untuk merubah agama. Bukan demikian yang ada dalam pikirn Maarif. , bukan. Tapi dalam kehidupan sosial. Pluarisme yang sosiologis bukan teologis atau akidah. (romi)